Aku, Dewi Aisyah Fitriyana, lahir di kota kecil di jawa tengah, Pekalongan. Tepatnya 16 april 1991. Saya anak ketiga dari lima bersaudara, aku berasal dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Semasa kecil ayah saya bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil besar di kota saya. Dan ibu, menjadi ibu rumah tangga yang mengurus kelima anaknya setiap hari. Ya, bisa dibilang aku bahagia semasa kecil. Ayah dan ibu bisa menuruti apa yang anak-anaknya inginkan. Mereka sangat ingin membahagiakan anaknya, aku tahu itu. Namun ketika aku duduk di pertengahan bangku sekolah dasar, ayahku yang menjadi tulang punggung keluarga itu harus berhenti kerja. Beliau terkena phk, ini karna sa'at itu Indonesia tengah dilanda krisis moneter. Awalnya aku tak tahu apa itu phk. Aku hanya tahu sekarang ayah tidak lagi sibuk bekerja. Kini (bahkan sampai sekarangpun) ayah merupakan satu dari banyaknya penganggguran yang ada di Indonesia.
Apa yang kami makan setiap hari bagian merupakan kiriman uang adik ayah yang bekerja di luar negeri sebagai tkw. Ya, meskipun hasil dari kiriman itu tidak seperti sa'at ayah bekerja tapi kami bersyukur karena masih bisa makan. Termasuk dengan biaya sekolah anak-anak ayah. Sejak itulah hidup kami menjadi "pas-pasan", kami tak pernah membeli apa yang kami mau. Kami hanya membeli apa yang kami butuhkan. Bahkan untuk urusan baju saja kami hanya setahun sekali bisa memekai baju baru, hanya idu fitri saja kami bisa merasakan semuanya baru.
Kesederhana'an keluarga kami tak menjadi hambatan untuk terus bertahan hidup. Meskipun terkadang ayah dan ibu mengeluhkan keada'an ekonomi kami, namun mereka tetap mengingat Tuhan dan anak-anaknya.
Tak bisa dipungkiri, diusiaku yang menginjak remaja aku selalu iri dengan teman-teman. Iri dengan mereka yang selalu tampil baru, punya uang saku banyak, sering jalan-jalan, hingga mereka yang dibelikan henpon oleh orang tuanya. Kusimpan itu semua dalam hati.
Aku punya banyak teman, ya karena aku pernah mencicipi serunya duduk di bangku taman kanak-kanak hingga duduk dibangku sma. Namun hanya beberapa teman saja yang sangat dekat denganku. Mungkin ini juga karena aku termasuk anak pendiam dan pemalu, jadi mereka enggan menjadi sahabatku:) Sebenarnya aku ingin seperti yang lain juga, meskipun kini aku sudah lulus sma, aku ingin pertemananku dengan teman-teman tetap terjalin. Adakalanya kita pergi atau main bersama. Hhhhh itu mustahil bagiku. Aku tak tahu apa yang ada dipikiran teman-teman, setiap aku menghubungi mereka mereka tak pernah merespon. Ini yang membuatku berkecil hati dan semakin kurang rasa percaya dirinya untuk menambah teman baru. Yang aku rasakan hanya sakit hati dan kekecewa'an.
Usiaku sekarang dua puluh tahun. Kalian tahu? aku belum pernah merasakan indahnya memiliki seorang kekasih yang menyayangiku. Lagi-lagi aku iri dengan mereka yang elalu gampang mendapatkan kekasih. Aku memeng mudah jatuh cinta, namun sulit bagiku untuk meraih cinta itu dan menggenggamnya. Sering aku berpikir dan mengeluh, Tuhan, mengapa aku tak juga memiliki kekasih? Engkau tahu aku menginginkan seorang kekasih yang menyayangiku. Tuhan, apakah aku tidak diperbolehkan untuk berpacaran? Apakah aku terlalu jelek hingga tak ada yang memujiku cantik, baik dan bahkan hingga detik ini pun tak ada yang menyatakan cintanya padaku? Tuhan, mengapa aku dibuat bingung dengan ini.
Aku tak punya cinta. Mungkin itu ungkapan yang tepat untukku "sa'at ini". Dan karena memang seperti itu keada'annya. Lalu jika aku tak punya cinta, mengapa aku memiliki kriteria sesosok pria yang ingin aku miliki yang sebenarnya keriteriaku ini terbilang umum. Aku memang menginginkan pria yang tampan, baik, kaya, wangi dan tidak jorok. Dan aku rasa semua wanita menginginkan itu.
Lelah aku menanti seorang pria yang menyatakan cintanya padaku, kini harapanku untuk memiliki pacar menipis. Terkadang aku tak percaya dengan adanya cinta. Terutama cinta dari lawan jenis yang hadir dalam kehidupanku. Sungguh rasanya aku tak ingin berada didunia yang orang bilang "penuh cinta" ini.
Aku tak beda dengan yang lain. Aku pun mempunyai mimpi dan harapan besar. Aku ingin kuliah, sama seperti teman-teman. Lagi-lagi karena keterbatasan ekonomi aku tak bisa mewujudkan itu. Selesai sma aku hanya bekerja sebagai penjahit disalah satu modiste. Dua tahun aku jalani ini, dengan harapan uang yang aku dapatkan bisa untuk membiayai kulihku kelak. Aku menyukai fashion dan menulis. Aku sangat ingin bisa sekolah fashion, tapi jika semua itu harus dengan biaya mahal, aku akan beralih untuk kuliah di bidang sastra. Aku yakin dengan keinginan dan harapan itu.
Mimpi. Semua orang bisa dan boleh bermimpi. Selama mimpi itu gratis bermimpilah dan jangn taku untuk mewujudkannya. Itu yang pernah aku dengar dari selebritis tanah air. Aku bermimpi menjadi wanita yang mempunyai nama dan mempunyai banyak prestasi hingga mengantarkanku serta keluargaku ke kehidupan yang lebih baik. Kami tak lagi kesulitan dalam ekonomi hingga terkadang harus meminta pada saudara atau bahkan menggadaikan benda yang kami punya hingga akhirnya menjual benda itu. Meraih mimpi memang tidak mudah. Dan ini yang selalu menjadi kuman-kuman yang mengganggu pikiranku tiap hari. Meskipun begitu, aku masih percaya dengan kalimat "manjadda wajadda, siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil". Semoga aku bisa melakukan itu. amiiin.
Komentar