Langsung ke konten utama

AKU.

Aku?
Ya seperti ini....
Cerewet dan enerjik. Tapi tetep aja ada sisi cengengnya.
Bertanggung jawab dan anti memalukan diri sendiri.
Aku kadang menjadi sok tahu jika ada orang bego yang ngobrol denganku, tapi dia kagak nyambung-nyambung.
Aku benci cewek seksi, sok cantik, sok kaya, dan juga benci cewek yang suka pamer cowoknya. Mesra-masraan dengan cowoknya di tempat umum pula.
Aku punya mimpi untuk sukses, terlebih lagi sukses di negeri orang.
Nggak munafik, aku pengen punya mobil sendiri dan bisa menyetir sendiri, lalu punya rumah sendiri. Nggak usah rumah megah tapi yang penting aku nyaman.
Disamping itu aku sangat ingin mempunyai penghasilan yang lebih dari penghasilanku sekarang. Karena hanya satu alasan.
Aku pingin kuliah dengan uangku sendiri (karena orang tua tak menyetujui aku untuk kuliah. So what!! gitu....) di IKJ alias Institute Kesenian Jakarta. Pengen mengambil teater. Karena aku menyukai akting. Dan aku bisa akting. Saaaayang...tak ada sutradara atau produser yang menemukanku. Yaaa karena aku gadis kampung yang jauh dari hingar bingar ibu kota.
Aku masih manja, namun aku mengakui (dengan agak sombong gak papa kan) bahwa aku adalah anak orang tuaku yang paling semangat mencari uang dari keempat sanak saudaraku.
Ya itu tadi, karena aku pingin memiliki hidup yang jauh lebih baik untuk masa depanku dan pasanganku (Insaya Allah).

Aku tidak mengagumi sosok ayahku. Karena apa?
Karena bagiku ia hanyya kepala keluarga saja, yang belum pantas untuk di tiru dan di kagumi. Secara, beliau terlalu banyak mengeluh dengan kehidupannya. Beliau tak pernah menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya dan beliiau tak mempunyai kedisiplinan, namun hanya bisa menyalahkan semua orang yang ada di hadapanyya saja. Itu yang membuat aku membencinya. Iya, aku tahu dia ayahku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah lelah dengan perilaku beliau selama ini!
Aku sering berkhayal dengan berharap bisa jadi kenyataan. Aku ingin hidup di luar negeri, jarang pulang dan selalu dikangeni banyak oranga :)

Hello....jangan pernah berpikir bahwa aku punya banyak teman. Itu semua tidak benar adanya. Karena aku masih termasuk anak pendiam dan pemalu. Aku juga kutu buku. Aku jarang pergi keluar rumah. Meskipun aku sedang banyak duit saat itu. Ini karena aku tak bisa naik motor sendiri. aku akui, aku pengecut untu belajar naik motor karena takut gagal.
Dasar!!! Aku Dewi yang galak, sok tahu, pendiam dan pengecut.

Aku tak juga punya pacar. bahkan kini usiaku manginjak 21 tahun. Itu bukan angka yang muda lagi..............
God, kapan aku punya pacar?
Apa  wajahku terlalu imut (*seperti yang orang lain bilang padaku) jadi para pria masih harus berpikir 2x lagi untuk menaksirku bahkan mencintaiku? Pasti mereka berpikir, aku masih kecil. Pasti manjanyaaaaa minta ampun. Pasti juga nggak nyambung kalo di ajak ngobrolin hal serius.
Kalo emang seperti itu, mengapa saya mudah sekali jatuh cinta? apalagi dengan pandangan pertama, dan dengan orang ganteng pula. Ini apa maksudnya? Bikin nyesek aja :(
Dewi yang mudah jatuh cinta, tapi tidak mudah mendapatkan cinta.




Dalam waktu dekat ini banyak temanku yang akan segera menikah. Termasuk beberapa teman dekatku dan sahabatku. Bagaimana denganku? aku tak mau jadi perawan tua (na'udzubillahimindzalik). Jangan sampai ya Allah..

Aku sering berkhayal yang konyol dan tergolong sangat berani. Aku ingin merasakan bagaimana punya pacar yang kasar (suka mukul, suka bentak, suka nampar) pokoknya kurang lebih KDRT :D

Hahaaaa...bukan hanya berkhayal memiliki pacar yang kasar dan ringan tangan saja. Tapi aku juga pernah berkhayal punya suami yang seperti itu juga, Hingga akhirnya kita bercerai.
Adduh....ini apa maksudnya yah? Pikiran gue kacau bener...kenapa gue terlalu berani untuk berkhayal seperti itu? Apa mungkin karena saya sedang ada keinginan menulis sebuahcerita yang seperti itu juga kali yah? lalu datanglah seorang pahlawan yang ternyata sangat mencintaiku, menyayangiku, menghargaiku. Dan aku tak pernah tahu itu. Endingnya romantis...

Ya Allah...seperti apa rasanya khayalan itu?
Tapi terkadang aku ada rasa takut juga sih, jika itu terjadi padaku.
Ya....sebagai orang beriman, aku meminta yang baik-baik sajalah.


Hei kau! Cowok yang:
Ganteng
Mapan
Putih
Wangi
Nggak merokok
Nggak jorok
Baik hati
Menyayangiku dan ikhlas menerimaku apa adanya, kemana kalian?

Aku menginginkan pria yang sperti itu hadir menemani hidupku sampai akhir hayatku. Walau aku tak tahu kapan aku akan menutup mata selamanya...

I love you all...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selebriti DPR

SELEBRITI   DPR Nampaknya dunia hiburan di Indonesia sudah bukan lagi khusus untuk para pekerja seni. Banyak kalangan yang bukan dari penghuni dunia hiburanpun diam-diam ingin terjun ke dalam dunia hiburan tersebut. Sebut saja para petinggi di Dpr. Jika arti sebuah infotainment itu untuk memberitakan kehidupan tentang pelaku dunia hiburan atau yang lebih dikenal dengan nama artis, belakangan infotainment tak pernah sepi memberitakan tingkah laku mereka yang sebenarnya tak perlu diberitakan. Sebenarnya apakah mereka ingin menjadi artis juga? Lho bukankah sekarang ini banyak artis yang justru banting setir berduyun-duyun mencalonkan diri menjadi penghuni kursi mahal dan berbagai fasilitas mahal yang ada di gedung dpr? Mungkin anggota Dpr dipusingkan dengan berbagai permasalahan negeri ini yang harus mereka selesaikan. Jadi membuat sebuah gebrakan yang lebay bukanlah suatu yang mustahil bagi mereka. Toh bakal ada infotainment yang akan meliput berita mereka. Jadi setiap hari...

Harlem Shake Pekalongan Indonesia

tentang saya

  Aku, Dewi Aisyah Fitriyana, lahir di kota kecil di jawa tengah, Pekalongan. Tepatnya 16 april 1991. Saya anak ketiga dari lima bersaudara, aku berasal dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Semasa kecil ayah saya bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil besar di kota saya. Dan ibu, menjadi ibu rumah tangga yang mengurus kelima anaknya setiap hari. Ya, bisa dibilang aku bahagia semasa kecil. Ayah dan ibu bisa menuruti apa yang anak-anaknya inginkan. Mereka sangat ingin membahagiakan anaknya, aku tahu itu. Namun ketika aku duduk di pertengahan bangku sekolah dasar, ayahku yang menjadi tulang punggung keluarga itu harus berhenti kerja. Beliau terkena phk, ini karna sa'at itu Indonesia tengah dilanda krisis moneter. Awalnya aku tak tahu apa itu phk. Aku hanya tahu sekarang ayah tidak lagi sibuk bekerja. Kini (bahkan sampai sekarangpun)  ayah merupakan satu dari banyaknya penganggguran yang ada di Indonesia.  Apa yang kami makan setiap hari bagian merupakan kiriman u...