Jika Tuhan tidak menakdirkan ini, maka ini tidak akan terjadi. Padaku.
Sebelumnya aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku sedang ingin meraih mimpi, menikah bisa nanti. Toh jodoh juga belum datang padaku. tapi ternyata itu hanya bisa aku ucapkan saja. aku terlanjur basah. Aku mengingkari janjiku sendiri. Aku malu dan bersalah hingga saat ini aku masih selalu merasa bersalah. Apalagi orang tua dan keluargaku sudah tidak mau lagi perhatian kepadaku. Aku sudah menjadi milik orang lain dengan cara yang tidak halal yang aku inginkan.
Aku sudah menikah engan seorang pria yang seumuran denganku. semuanya karena "kecelakaan". Murni kesalahan aku dan si pria itu. Sebenarnya dia bukan pria asing. Dia pernah berteman denganku sewaktu duduk dibangku SMA kelas dua. Bahkan kami juga sempat berpacaran selama tiga bulan. Aku merasa tidak cocok dengannya. Lalu aku memutuskan untuk berpisah saja. Diapun menyetujui itu. Selepas dari SMA kami lama tak bertemu kira-kira dua tahun. Berarti saat itu usiaku dua puluh tahun. Karena aku lulus SMA usia delapan belas tahun. Diusiaku yang kedua puluh tahun itu atas kehendak Tuhan kami kembali dipertemukan. Di sebuah club malam. Aku akui dulu aku memang bandel. Aku bebas melakukan apa saja asalkan aku bahagia. dan tidak pernah ada yang aku takuti. Mungkin aku anak ayah dan ibu yang paling bandel diantara keempat saudaraku. Itu mungkin menjadi beban buat orang tuaku, tapi bagiku aku puas dengan diriku yang seperti ini.
Pertemuan itu pula sebagai awal menyatunya aku dan dia. Kami kembali bercengkrama dan becanda. waktu terasa begitu cepat sejak pertemuan itu. satu bulan dua bulan kami menjalin cinta kembali. Saat itu kami yang sedang kuliah, harus terima kejadian yang tidak pernah kami sangka. Hubungan kami ditentang oleh kedua orang tua kami maing-masing. Tapi kami tetap melanjutkan itu. Aku sabar ketika pria yang bernama Elang itu tak pernah disapa oleh keluargaku jika berkunjung kerumahku. Aku memaklumi itu. Begitu pula dengan Elang. Elangpun harus sabar ketika orang tuanya tak menyapaku ketika aku berkunjung kerumahya. kami benar-benar keras kepala. Bandel. Nggak kenal aturan dan berani melanggar aturan.
Malam itu, tanggal 25 desember bertepatan dengan ulang tahunku yang ke dua puluh satu, Elang memberi kejutan untukkku. Dia tahu bahwa aku selallu merayakan apapun di sebuah klub. Aku punya klub favorit yang harganya juga selalu terjangkau dengan isi kantongku. Mahasiswa. Aku terbuai dalam belaian Elang, gombalan Elang, peluk dan cium dari Elang. Semunya bisa aku nikmati malam itu juga. Hingga aku berada pada titik dosa besar yang dilaran oleh semua agama. Aku tak sadar saat itu. Menikmati indahnya "bercinta" dengan kekasihku bercamur alkohol dari mulut kami. Jangan ditanya seberapa beraninya aku malam itu. Aku sendiri tidak bisa mengukur keberanianku malam itu. Karena itu semua di bawah alam sadar manusia.
Klub, alkohol, belaian, ciuman dan hotel mewah yang Elang hadiahkan padaku menjadi hadiah terburuk yang pernah aku terima. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan aku adalah seorang wanita yang sudah tidak bisa disebut gadis lagi. aku adalah seorang wanita yang sudah tidak bisa berpaling dari Elang, aku lebih kotor dari para pemulung dan pengemis yang setiap hari aku lihat sepulang dari kuliah. Aku mulai merasakan kebencian yang orang tunjukkan padaku. Entahlah bagaimana dengan Elang. Aku memang malu. Apalagi orang tuaku.
Aku bertekad mendatangi rumha Elang untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Sudah dua bulan aku mengandung anak Elang. namun semua yang telah aku rencanakan itu tak berjalan mulus. Sepertinya Elang sudah tahu apa yang akan aku sampaikan padanya dan keluarganya. Elang banyak berdalih. Ini yang aku tak suka dari Elang. Dia susah sekali untuk berterus terang. Sekalipun denganku, pacarnya sendiri. Keluarga Elang yang mengetahui hal ini memintaku menunjukkan bukti. Susah memang, karena tes dna hanya bisa dilakukan ketika bayi ini lahir kedunia.
Akhirnya Elang luluh juga. Mungkin dia didesak oleh mama dan papa nya. Elang mengakui kenyataan pahit itu. Bukankah lebih baik jujur walaupun itu menyakitkan dari pada berbohong seumur hidup?
Orang tua Elang ingin kami segera
Sebelumnya aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku sedang ingin meraih mimpi, menikah bisa nanti. Toh jodoh juga belum datang padaku. tapi ternyata itu hanya bisa aku ucapkan saja. aku terlanjur basah. Aku mengingkari janjiku sendiri. Aku malu dan bersalah hingga saat ini aku masih selalu merasa bersalah. Apalagi orang tua dan keluargaku sudah tidak mau lagi perhatian kepadaku. Aku sudah menjadi milik orang lain dengan cara yang tidak halal yang aku inginkan.
Aku sudah menikah engan seorang pria yang seumuran denganku. semuanya karena "kecelakaan". Murni kesalahan aku dan si pria itu. Sebenarnya dia bukan pria asing. Dia pernah berteman denganku sewaktu duduk dibangku SMA kelas dua. Bahkan kami juga sempat berpacaran selama tiga bulan. Aku merasa tidak cocok dengannya. Lalu aku memutuskan untuk berpisah saja. Diapun menyetujui itu. Selepas dari SMA kami lama tak bertemu kira-kira dua tahun. Berarti saat itu usiaku dua puluh tahun. Karena aku lulus SMA usia delapan belas tahun. Diusiaku yang kedua puluh tahun itu atas kehendak Tuhan kami kembali dipertemukan. Di sebuah club malam. Aku akui dulu aku memang bandel. Aku bebas melakukan apa saja asalkan aku bahagia. dan tidak pernah ada yang aku takuti. Mungkin aku anak ayah dan ibu yang paling bandel diantara keempat saudaraku. Itu mungkin menjadi beban buat orang tuaku, tapi bagiku aku puas dengan diriku yang seperti ini.
Pertemuan itu pula sebagai awal menyatunya aku dan dia. Kami kembali bercengkrama dan becanda. waktu terasa begitu cepat sejak pertemuan itu. satu bulan dua bulan kami menjalin cinta kembali. Saat itu kami yang sedang kuliah, harus terima kejadian yang tidak pernah kami sangka. Hubungan kami ditentang oleh kedua orang tua kami maing-masing. Tapi kami tetap melanjutkan itu. Aku sabar ketika pria yang bernama Elang itu tak pernah disapa oleh keluargaku jika berkunjung kerumahku. Aku memaklumi itu. Begitu pula dengan Elang. Elangpun harus sabar ketika orang tuanya tak menyapaku ketika aku berkunjung kerumahya. kami benar-benar keras kepala. Bandel. Nggak kenal aturan dan berani melanggar aturan.
Malam itu, tanggal 25 desember bertepatan dengan ulang tahunku yang ke dua puluh satu, Elang memberi kejutan untukkku. Dia tahu bahwa aku selallu merayakan apapun di sebuah klub. Aku punya klub favorit yang harganya juga selalu terjangkau dengan isi kantongku. Mahasiswa. Aku terbuai dalam belaian Elang, gombalan Elang, peluk dan cium dari Elang. Semunya bisa aku nikmati malam itu juga. Hingga aku berada pada titik dosa besar yang dilaran oleh semua agama. Aku tak sadar saat itu. Menikmati indahnya "bercinta" dengan kekasihku bercamur alkohol dari mulut kami. Jangan ditanya seberapa beraninya aku malam itu. Aku sendiri tidak bisa mengukur keberanianku malam itu. Karena itu semua di bawah alam sadar manusia.
Klub, alkohol, belaian, ciuman dan hotel mewah yang Elang hadiahkan padaku menjadi hadiah terburuk yang pernah aku terima. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan aku adalah seorang wanita yang sudah tidak bisa disebut gadis lagi. aku adalah seorang wanita yang sudah tidak bisa berpaling dari Elang, aku lebih kotor dari para pemulung dan pengemis yang setiap hari aku lihat sepulang dari kuliah. Aku mulai merasakan kebencian yang orang tunjukkan padaku. Entahlah bagaimana dengan Elang. Aku memang malu. Apalagi orang tuaku.
Aku bertekad mendatangi rumha Elang untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Sudah dua bulan aku mengandung anak Elang. namun semua yang telah aku rencanakan itu tak berjalan mulus. Sepertinya Elang sudah tahu apa yang akan aku sampaikan padanya dan keluarganya. Elang banyak berdalih. Ini yang aku tak suka dari Elang. Dia susah sekali untuk berterus terang. Sekalipun denganku, pacarnya sendiri. Keluarga Elang yang mengetahui hal ini memintaku menunjukkan bukti. Susah memang, karena tes dna hanya bisa dilakukan ketika bayi ini lahir kedunia.
Akhirnya Elang luluh juga. Mungkin dia didesak oleh mama dan papa nya. Elang mengakui kenyataan pahit itu. Bukankah lebih baik jujur walaupun itu menyakitkan dari pada berbohong seumur hidup?
Orang tua Elang ingin kami segera
Komentar