Langsung ke konten utama

Jakarta Bukan Milik Kita



JAKARTA (bukan) MILIK KITA
Apa yang terlintas dalam benak setiap manusia tentang ibu  kota?
Ya, ibu kota Negara ini. Jakarta. Letaknya di pulau jawa. Pulau yang padat penduduknya. Jakarta bukan lagi sebuah ibu kota pada umumnya. Berbagai permasalahan dan modernisasi kehidupan menjadi satu di kota yang kini tak lagi mempunyai lahan yang luas ini. Mungkin permasalahan besar di Jakarta terdapat pada kepadatan penduduknya yang kini membludak. Permasalahan ekonomi yang masih banyak dibawah rata-rata. Pendidikan, lapangan pekerjaan, moralitas, semuanya menjadi hiasan yang sangat ”jelek” yang pernah ada di Jakarta. Hiasan yang selalu saja tidak pernah bisa diselesaikan. Dari pemimpin yang lama ke pemimpin yang baru. Belum lagi lingkungan yang tidak pernah menjamin akan terbentuknya kepribadian yang dinamis, dan santun. Maka harga diri sudah tidak mereka perhitungkan lagi. Tawuran antar pelajar, pembunuhan, perampokan bahkan kasus criminal lainnya yang tersebar di setiap sudut ibu kota bukan lagi hal yang harus di tutupi di mata semua orang. Lalu sebutan apa lagi yang pantas diberikan untuk Jakarta?
Jakarta memang tak pernah mati. Dia tidak mengenal pagi, siang, sore dan malam. Setiap jarum jam yang berdetak mengandung uang. Tak pernah ada satu menitpun yang terlewatkan sia-sia demi uang. Bisa dibilang Jakarta bukan kota yang susah untuk mencari uang. Sesempitnya lapangan pekerjaan di Jakarta, toh mereka masih bisa mendapatkan uang setiap hari. Tak peduli mengorbankan nyawa, harga diri, bahkan derajat dan kodratnya. Alasannya hanya satu. Demi uang. Pendidikan dan sekolah bagi mereka bukan nomor satu. Bahkan ada juga mereka yang enggan memikirkan pendidikan. Karena yang menempel di otak mereka hanya uang. Apa gunanya jika mempunyai pendidikan tinggi namun tidak bisa menggunakan sesuai dengan jalannya.
Mereka sering dijanjikan akan pendidikan gratis.  Gratis jika mereka mau memilih calon pemimpin yang sudah membuat janji palsu kepada mereka. Mana ada pemimpin yang menjanjikan itu sedangkan permasalahan besarnya yaitu kepadatan penduduk dan banjir mejadi keluhan setiap warganya. Keharmonisan antara pemimpin dan warganya tak lagi bisa dilihat. Semua menjadi semu.
Berbeda dengan masyarakat kalangan kelas bawah, masyarakat kalangan kelas atas terlihat tak selalu terbebani dengan berbagai permasalahan yang ada di Jakarta. Mereka melakukan sesuatu dari diri sendiri dan untuk diri sendiri pula. Mungkin hanya kemacetan yang kerap kali dikeluhkan oleh semua kalangan. Sudah pasti semua kalangan menggunakan jalan di Jakarta yang semakin menyempit. Diprediksi dalam beberapa tahun lagi kota Jakarta akan mengalami mecet total. Baru buka pintu rumah saja sudah ada banyak kendaraan yang ”parkir” bebas di depan rumah. Belum lagi polusi yang membuntuti kemanapun kendaraan itu berarah. Jika sudah begini semua merasa ingin meyelamatkan diri masing-masing. Yang paling kejam adalah ketika sebuah bibir terucap bahwa bukan salahku. Aku hanya korban permasalahan di Jakarta. Manusia gemar sekali melakukan kesalahan tapi enggan mengakui dan menyadarkannya. Lalu jika Jakarta bukan miliknya, apakah semuanya akan berkata yang sama? Jakarta (bukan) milik kita.
Saya rasa tidak ada yang lain selain kesadaran dari kedua belah pihak. Antara para pemimpin dan warganya. Saya bisa memprediksi bahwa warga akan sadar ketika para pemimpinnya bisa memenuhi janji-janjinya. Mungkin ini sebagai bentuk balas dendam ketika para pemimpin tersebut berjanji namun mengingkarinya. Ketika para pemimpin menjawab iya, maka permintaan merekapun akan bertambah. Mereka ingin pemimpin memfasilitasi apa yang patut difasilitsi di ibu kota. Jika begini terus, kapan kesadaran keduanya akan tercipta?
Berbicara Jakarta memang tak pernah ada habisnya. Terlebih lagi jika berbicara tentang segala permasalahan yang ada di Jakarta. Ibu kota bisa saja menangis dengan permasalahan ini. Batavia kini yang ada tidak seperti Batavia yang dulu. Batavia sudah semakin tua. Anak cucu bertambah banyak dan semakin berkembang pesat. Kelak ibu kota tidak bisa menampung lebih banyak lagi cucu-cucunya dan bahkan mungkin hingga cicit-cicitnya. Hanya satu alasan, tempat ini sudah padat.
Tradisi dan budaya yang terdapat di ibu kota mungkin juga bisa hilang begitu saja. Lihat saja, semakin banyak gedung-gedung bertingkat tinggi yang menciptakan kemodernisasi kehidupan. Mereka cenderung memilih, melihat dan menyaksikan sesuatu yang lebih modern. Kiblatnya tentu saja Negara berkembang didunia seperti Negara-negara di Eropa atau di Amerika. Mungkin dua kalangan yang bertolak belakang tersebut secara terang-terangan mengikuti gaya hidup Negara-negara maju di dunia. Tapi apa mereka berani bersumpah bahwa Jakarta sama seperti kota-kota modern di Negara maju di dunia?
Tidak ada yang bisa menjamin itu bukan? Apa yang menyebabkan ini terjadi? Susah untuk ditelusuri secara mendalam. Namun solusinya hanya kesadaran, kesadaran, dan keharmonisan antara pemimpin dan rakyatnya.
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selebriti DPR

SELEBRITI   DPR Nampaknya dunia hiburan di Indonesia sudah bukan lagi khusus untuk para pekerja seni. Banyak kalangan yang bukan dari penghuni dunia hiburanpun diam-diam ingin terjun ke dalam dunia hiburan tersebut. Sebut saja para petinggi di Dpr. Jika arti sebuah infotainment itu untuk memberitakan kehidupan tentang pelaku dunia hiburan atau yang lebih dikenal dengan nama artis, belakangan infotainment tak pernah sepi memberitakan tingkah laku mereka yang sebenarnya tak perlu diberitakan. Sebenarnya apakah mereka ingin menjadi artis juga? Lho bukankah sekarang ini banyak artis yang justru banting setir berduyun-duyun mencalonkan diri menjadi penghuni kursi mahal dan berbagai fasilitas mahal yang ada di gedung dpr? Mungkin anggota Dpr dipusingkan dengan berbagai permasalahan negeri ini yang harus mereka selesaikan. Jadi membuat sebuah gebrakan yang lebay bukanlah suatu yang mustahil bagi mereka. Toh bakal ada infotainment yang akan meliput berita mereka. Jadi setiap hari...

Harlem Shake Pekalongan Indonesia

tentang saya

  Aku, Dewi Aisyah Fitriyana, lahir di kota kecil di jawa tengah, Pekalongan. Tepatnya 16 april 1991. Saya anak ketiga dari lima bersaudara, aku berasal dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Semasa kecil ayah saya bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil besar di kota saya. Dan ibu, menjadi ibu rumah tangga yang mengurus kelima anaknya setiap hari. Ya, bisa dibilang aku bahagia semasa kecil. Ayah dan ibu bisa menuruti apa yang anak-anaknya inginkan. Mereka sangat ingin membahagiakan anaknya, aku tahu itu. Namun ketika aku duduk di pertengahan bangku sekolah dasar, ayahku yang menjadi tulang punggung keluarga itu harus berhenti kerja. Beliau terkena phk, ini karna sa'at itu Indonesia tengah dilanda krisis moneter. Awalnya aku tak tahu apa itu phk. Aku hanya tahu sekarang ayah tidak lagi sibuk bekerja. Kini (bahkan sampai sekarangpun)  ayah merupakan satu dari banyaknya penganggguran yang ada di Indonesia.  Apa yang kami makan setiap hari bagian merupakan kiriman u...